XXX. Hari-Hari Akhir Rasulullah saw (2)

 

Makin hari sakit Rasulullah saw makin bertambah berat. Namun demikian beliau tetap memimpin  shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat, meski usai shalat tidak seperti dahulu ketika sehat, yaitu duduk dikelilingi para sahabat sambil memberikan tausiyah. Rasulullah kini langsung pulang, masuk kamar dan beristirahat.

Suatu hari, ketika Rasulullah saw sudah tidak kuat lagi keluar untuk mengimami shalat maka beliau bersabda: “Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.“ Aisyah ra menyahut: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang yang lembut. Ia suka menangis kalau sedang membaca Qur’an. Jika dia menggantikanmu maka suaranya tidak dapat didengar oleh orang“.

Nabi saw bersabda: “Kalian memang seperti perempuan-perempuan Yusuf. Perintahkan Abu Bakar supaya mengimami shalat jama‘ah“. Maka Abu Bakarpun keluar dan bertindak sebagai Imam shalat jama‘ah, menggantikan Rasulullah yang makin hari makin terlihat lemah.

Waktu terus berlalu. Sakit Rasulullah makin hari makin bertambah. Beliau mengalami demam sangat tinggi. Setiap hari para sahabat bergantian datang menjenguk. Demikian pula Fatimah, satu-satunya putri Rasulullah. Setiap kali datang menjenguk, diciumnya putri kesayangan tersebut. Namun suatu hari ketika sakit Rasul makin berat, Fatimahlah yang mencium ayahnya tercinta.

“Selamat datang, puteriku“, sambut Rasul. Dengan wajah menahan duka Fatimahpun duduk disamping ayahnya. Tak lama kemudian Rasul membisikkan sesuatu ke telinga Fatimah. Seketika Fatimah tertawa. Wajahnya langsung berubah cerah. Tetapi beberapa saat kemudian setelah  Rasulullah kembali membisikan sesuatu, Fatimahpun menangis sedih.

Aisyah kemudian bertanya, apa yang dikatakan ayahnya itu. Fatimah hanya menjawab pendek : ” Aku tidak akan membuka rahasia ayahku “.

Di kemudian hari, setelah Rasulullah wafat, Fatimah mengatakan, bahwa ayahnya membisikkan kata  bahwa dirinya adalah orang pertama dari pihak keluarga yang akan menyusul Rasulullah wafat. Itu sebabnya ia tertawa. Selanjutnya ketika Rasulullah berbisik bahwa beliau akan wafat disebabkan  sakitnya itu, iapun tak tahan untuk tidak menangis.

Selama beberapa hari kemudian, Rasulullah menggigil hebat. Tubuhnya mengalami demam sangat tinggi. Oleh karenanya sebuah bejana berisi air dinginpun diletakkan disamping Nabi saw. Sekali-sekali beliau memasukkan tangan beliau ke dalam air tersebut lalu mengusapkannya ke muka. Saking tingginya suhu tubuh Rasulullah, kadang beliau sampai tak sadarkan diri. Tak lama setelah itu beliaupun sadar kembali dengan keadaan yang begitu payah.

Karena perasaan sedih yang sungguh menyayat hati, suatu hari Fatimah berkata mengenai penderitaan ayahnya itu: “Alangkah beratnya penderitaan ayah!”

“Tidak. Takkan ada lagi penderitaan ayahmu sesudah hari ini,” jawab nabi saw, berusaha menenangkan putri kesayangan satu-satunya itu .

Suatu hari, Rasulullah meminta Aisyah agar memanggil ayahnya datang. Aisyah ra berkata: “Pada waktu sakit, Rasulullah saw pernah berkata kepadaku:‘Panggillah kemari Abu Bakar, bapakmu dan saudaramu, sehingga aku menulis sesuatu wasiat. Sebab aku khawatir ada orang yang berambisi mengatakan: “Aku lebih berhak“, padahal Allah dan orang-orang Mukmin tidak rela kecuali Abu Bakar”.

Sementara itu, Ibnu Abbas meriwayatkan : “Ketika Rasulullah saw sedang sakit keras, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam rumah: ‘Kemarilah aku tuliskan sesuatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya’. Kemudian sebagian mereka berkata, ‘Sesungguhnya Rasululah saw dalam keadaan sakit keras sedangkan di sisi kalian ada Al-Quran, cukuplah bagi kita Kitab Allah’. Maka timbullah perselisihan diantara orang-orang yang ada di dalam rumah. Diantara mereka ada yang berkata: ‘Mendekatlah, beliau hendak menulis suatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya’. Diantara mereka ada juga yang mengatakan selain itu. Mendengar perselisihan itu bertambah sengit dan gaduh akhirnya Rasulullah saw bersabda: “Pergilah kamu sekalian! Tidak patut kamu berselisih di hadapan Nabi.”

Berita sakitnya Nabi saw yang dari hari ke hari makin bertambah itu telah diketahui oleh seluruh penduduk Madinah. Usama dan pasukannya yang selama itu menunggu di Jurf akhirnya juga mendengar berita tersebut. Maka Usamapun memutuskan untuk pulang dan segera menjenguk Rasulullah. Betapa sedihnya Usama ketika dilihatnya, Rasulullah tidak lagi mampu mengeluarkan suara. Sebaliknya begitu melihat orang yang dicintai datang menjenguk, Rasulullah mengangkat tangan beliau dan meletakannya di bahu Usama, tanda bahwa beliau sedang mendoakannya.

Beberapa waktu kemudian,menyadari bahwa waktunya telah makin mendekat, Rasulullah saw bertanya kepada Aisyah : “Apa yang kamu lakukan dengan (dinar) itu? “.

Ketika sakit Rasulullah makin bertambah parah, beliau, yang hanya memiliki harta tujuh dinar di tangan itu, memang telah meminta Aisyah agar menyedekahkan uang tersebut. Namun karena kesibukannya mengurus dan merawat sang suami tercinta, tampaknya Aisyah lupa melaksanakan permintaan Rasulullah. Dengan menyesal Aisyah  menunjukkan uang yang masih ada di tangannya.

“Bagaimanakah jawab Muhammad kepada Tuhannya, sekiranya ia menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya”, begitu komentar Rasul sambil memegang uang yang baru saja diserahkan kembali oleh Aisyah itu. Kemudian segera beliau membagikan uang tersebut kepada fakir-miskin di kalangan Muslimin.

Malamnya, panas tubuh Rasulullah agak berkurang. Karena merasa agak sehat maka subuh esok paginya beliau turun dari pembaringannya.  Dengan berikat kepala dan bertopang kepada Ali bin Abi Talib dan Fadzl bin’l-’Abbas, beliau keluar menuju masjid untuk shalat subuh berjamaah. Disana beliau mendapati Abu Bakar sedang mengimami shalat. Melihat kedatangan Rasulullah saw, Abu Bakar segera mundur. Namun Rasulullah memberi isyarat agar ia terus melanjutkan memimpin shalat. Selanjutnya Rasulullah duduk di sebelah kanan Abu Bakar lalu melakukan shalat, bermakmum kepada Abu Bakar, bersama para sahabat yang tetap berdiri melanjutkan shalat.

Betapa gembiranya para sahabat melihat Rasulullah kembali dapat shalat bersama mereka. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa shalat tersebut merupakan shalat terakhir mereka bersama orang yang paling mereka cintai. Mereka bahkan menyangka Rasulullah telah sehat dan pulih kembali. Padahal sebenarnya sakit Rasulullah semakin bertambah serius.

Ibnu Mas‘ud meriwayatkan: “Aku pernah masuk membesuk Rasulullah saw ketika beliau sedang sakit keras, lalu aku pegang beliau dengan tanganku seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami demam panas sekali’. Jawab Nabi saw: ‘Ya, demam yang kurasakan sama dengan yang dirasakan oleh dua orang dari kalian (dua kali lipat).’ Aku katakan: ‘Apakah hal ini karena engkau mendapatkan dua pahala?’ Nabi saw menjawab: ‘Ya, tidaklah seorang Muslim menderita sakitnya itu kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya’“. ( HR. Muttafaq ‘Alaih).

Dalam keadaan sakit keras seperti itulah Rasulullah saw kemudian menutupi wajahnya dengan kain. Apabila dirasakan sakit sekali maka beliau membuka wajahnya lalu bersabda: “Semoga laknat Allah ditimpahkan ke atas orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid“. ( HR. Muttafaq ‘Alaih).

Ini adalah isyarat dari Rasulullah saw agar kaum Muslimin tidak melakukan tindakan seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi dan Nasrani, yaitu menjadikan makam atau kuburan sebagai tempat ibadah atau masjid.

Beberapa hari kemudian, yaitu pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal tahun ke 11 H atau 8 Juni 632 M, ketika para sahabat sedang menunaikan shalat Subuh ber-jamaah, tirai kamar Aisyah yang letaknya memang menempel dengan masjid dimana para sahabat biasa shalat, tiba-tiba tersingkap. Dari balik tirai tersebut muncul seraut wajah Rasulullah dengan senyuman tersungging di bibir.

Betapa gembiranya para sahabat menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka bahkan nyaris menangguhkan shalat saking antusiasnya ingin menyambut sang pemimpin yang begitu mereka cintai itu. Mengira bahwa Rasulullah akan shalat, Abu Bakarpun menggeser tubuhnya, untuk memberi tempat kepada Rasulullah. Namun Rasulullah segera memberi tanda agar Abu Bakar meneruskan shalatnya. Kemudian Rasulullah masuk kembali ke kamar.

Selanjutnya karena menyangka Rasulullah telah pulih kembali, dengan hati lega para sahabatpun  bergegas meninggalkan masjid untuk mengurus segala keperluan yang selama ini agak terbengkalai. Demikian pula Abu Bakar. Ia meminta izin untuk pulang ke rumahnya di Sunuh.

Sebaliknya, sebenarnya Rasulullah telah mengetahui bahwa saat-saat terakhir beliau telah tiba.  Para sahabat tidak menyadari bahwa senyum Rasulullah yang mereka lihat itu adalah isyarat pamit Rasulullah yang tampak puas menyaksikan umatnya telah mampu mendirikan shalat Subuh berjamaah dengan tertib.

Aisyah menceritakan,“Ketika aku sedang memangku Rasulullah, tiba-tiba Abdurahman masuk dengan membawa siwak ditangan. Aku melihat Rasulullah terus menerus menatap siwak tersebut hingga aku tahu kalau beliau menginginkannya. Aku tanya “ Kuambilkan untukmu?” Setelah memberi isyarat‘ya’, lalu kuberikan siwak itu. Karena siwak terlalu keras, kutawarkan untuk melunakkannya dan beliau member isyarat setuju. Beliau kemudian memasukkan ke dua tangannya ke dalam bejana berisi air yang ada di hadapannya lalu mengusap wajahnya seraya berucap : “ La ilaha illallah. Sesungguhnya kematian itu mempunyai sakarat”. ( HR. Bukhari dan Muslim).

Beliau kemudian mengangkat tangannya seraya berucap, “ Fir-Rafiqil A’la’, sampai beliau wafat dan tangannya lunglai”. ( HR.Bukhari).

“Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan”.(QS.Al-Anbiya(21):34-35).

Komentar atau pertanyaan, silakan tulis di sini

Posting Komentar (0)
Lebih baru Lebih lama